Kesan Sebagai Warga Sendangagung


Sumber gambar dari Moergiyanto.wordpress.com

Saya secara adminitratif bukan lagi warga Sendangagung, saya percaya bahwa definisi warga tidak bisa hanya ditentukan dari fakta de jure, namun ada fakta-fakta humanis yang lebih dari sekedar catanan dingin dalam secarik kertas. Besar dan dibesarkan di Sendangagung banyak membentuk dan menempa saya sebagai seorang manusia.  Sendangagung merupakan desa toleran dari awal berdirinya, hal ini dibuktikan dengan minimnya konflik terutama yang menyangkut kontentasi kekuasaan, bahkan pada awal bergabungnya tiga kelurahan kecil sifat toleran dan legowo dapat dilihat ketika Pak Djojosumarto terpilih menjadi lurah pertama. Lurah kedua Sendangagung Pak Suhadi yang berasal dari warga minoritas juga menjadi contoh betapa warga Sendangagung mepunyai sifat toleransi yang tinggi. Zaman boleh berganti, sabak boleh diganti dengan laptop, seharusnya nilai-nilai humanis tidak boleh berubah.

Saya tumbuh dalam pergantian milenium, selain pergantian milenium Sendangagung juga mengalami pergantian tampu kepemimpinan. Setelah memimpin selama dua puluh tahun, Pak Suhadi digantikan oleh Kades terpilih Pak Badawi. Sebagai anak-anak saya sangat menikmati kemeriahan pesta demokrasi di Sendangagung. Pemilihan kades pada waktu itu terkesan aman dan damai, yang kalah juga legawa dan yang menang tidak jumawa. Nilai-nilai humanis nan toleran juga saya rasakan dalam gotong royong upacara pemakaman dan gotong royong antar warga. Warga Sendangagung dengan multi religiusitasnya dapat cair dalam upacara yang sekarang sudah agak jarang ditemui ditengah masyarakat. Sendangagung juga memberikan ‘warisan’ yang sangat berharga bagi saya yaitu memori indah masa kecil. Hampir disetiap minggu ada pertunjukan budaya seperti Jatilan dan Wayang Kulit. Gelaran budaya-budaya seperti itu berlangsung damai tertib dan aman.

Setelah lama berhibernasi warga Sendangagung melakukan gebrakan besar melalui sebuah gerakan sosial-budaya yang disebut sebagai Sendangagung Gumregah. Menurut saya ini merupakan gerakan yang perama kali di Yogyakarta. Langkah riil yang sudah dilakukan oleh Sendangagung gumregah adalah dengan diadakannya rembug agung pada tanggal 9 Juli 2016. Guyub warga Sendangagung sangat luar biasa untuk merealisasikan acara tersebut, dana terkumpul sekitar 80 juta dalam waktu kurang dari dua bulan. Gelar potensi budaya pada bulan Oktober dan terakhir adalah rencana launching buku sejarah pada bulan April 2017.  Secara langsung saya terlibat dalam penulisan sejarah Sendangagung. Guyub rukun dan kehangatan warga Sendangagung masih terasa. Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur belumlah hilang seluruhnya. Sekarang adalah tugas kita bersama untuk mewariskan nilai-nilai luhur ini kepada anak cucu kita kelak. Penulisan sejarah Sendangagung hanyalah salah satu cara untuk merekam dan mentransmisikan nilai kepada generasi selanjutnya, masih ada banyak sekali cara untuk mewariskan nilai luhur terutama dengan media seni dan budaya. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesan Sebagai Warga Sendangagung"

Posting Komentar